Rano Karno Mohammad Bilal (Ranka Mobil)
Perikanan Kabupaten Majene
Perikanan Sulawesi Tengah
Sulawesi Tengah memiliki perairan laut seluas 193.923,75 km2 yang tersebar di Teluk Tolo, Teluk Tomini, Selat Makasar dan Laut Sulawesi. Potensi sumberdaya ikan di perairan tersebut kurang lebih sebanyak 330.000 ton per-tahun. Sedangkan ikan yang bisa dikelola secara lestari sekitar 214.000 ton per-tahun. Di Teluk Tolo terdapat 68.000 ton per-tahun, Teluk Tomini 78.000 ton per-tahun, Selat Makasar dan Laut Sulawesi 68.000 ton per-tahun. Dari potensi ikan lestari tersebut jumlah ikan yang dapat ditangkap sebesar 217.280 ton per-tahun. Sementara itu, tingkat pemanfaatan sampai dengan saat ini baru mencapai 46,20%.
Jenis ikan yang terdapat di perairan Sulawesi Tengah antara lain ikan tuna, ikan cakalang, ikan kerapu, ikan taripang, ikan lajang dan udang. Potensi ikan pelagis besar untuk komoditi ekspor terutama ikan tuna sekitar 10.000 ton per-tahun dan ikan cakalang 14.000 ton per-tahun. Hasil laut lainnya yaitu biji mutiara, teripang, dan rumput laut. Selain perikanan tangkap, Sulawesi Tengah juga potensial untuk pengembangan perikanan budidaya seperti udang, ikan bandeng dan ikan kerapu.
Jenis ikan yang terdapat di perairan Sulawesi Tengah antara lain ikan tuna, ikan cakalang, ikan kerapu, ikan taripang, ikan lajang dan udang. Potensi ikan pelagis besar untuk komoditi ekspor terutama ikan tuna sekitar 10.000 ton per-tahun dan ikan cakalang 14.000 ton per-tahun. Hasil laut lainnya yaitu biji mutiara, teripang, dan rumput laut. Selain perikanan tangkap, Sulawesi Tengah juga potensial untuk pengembangan perikanan budidaya seperti udang, ikan bandeng dan ikan kerapu.
Perkebunan Kakao Sulawesi Barat.
Tanaman kakao (Theobroma cacao, L) adalah salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peranan penting dalam pembangunan di Sulawesi Barat, karena memiliki areal yang cukup luas dan menyebar di seluruh kabupaten yang ada di Sulawesi Barat, serta memberikan kontribusi yang cukup besar bagi propinsi. Disamping itu, sampai saat ini kakao masih memiliki prospek pasar yang cukup baik dibanding komoditas perkebunan lainnya.
Sulawesi Barat merupakan sentra kakao Indonesia karena pada wilayah tersebut terdapat lebih dari 50 % dari areal pertanaman kakao di Sulawesi disamping itu kawasan tersebut memang sesuai untuk pengembangan kakao jika dilihat dari segi agro-klimat. Dengan adanya pusat pengembangan kakao pada lima kabupaten di kawasan Mandalu, tidak berarti bahwa pengembangan kakao di kabupaten lain tidak dilaksanakan lagi. Pengembangan areal tanaman kakao ini tidak dibarengi dengan peningkatan mutu biji kakao yang dihasilkan. Rendahnya mutu biji kakao tersebut disebabkan karena faktor teknis dan faktor nonteknis. Faktor teknis bersumber dari kurang tepatnya kesesuaian lahan dan benih yang digunakan, pemeliharaan kebun (terutama teknik pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian serangan hama dan penyakit), hingga proses pascapanen (terutama proses fermentasi). Sedangkan faktor nonteknis antara lain modal, sikap terhadap teknologi, pendidikan, penga-laman, umur, dan kurangnya penyuluhan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terdapat beberapa fakta permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, diantaranya ;
Sektor Kelautan (perikanan tangkap)
Kurangnya peralatan atau sarana dan prasarana penangkapan produksi laut.
Posisi tawar harga yang rendah dikarenakan jalur dan tempat pemasaran yang terbatas serta tanpa pengolahan produk pasca panen.
Kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya mendukung seperti program penyuluhan dan pembinaan nelayan yang belum sepenuhnya dilaksanakan.
Tidak adanya usaha sambilan dengan melakukan penganekaragaman sumber penghasilan
Adanya aktifitas pengeboran lepas pantai yang dilakukan oleh perusahaan besar, memberikan kekawatiran nelayan terhadap produktifitas hasil tangkapannya.
Sulawesi Barat merupakan sentra kakao Indonesia karena pada wilayah tersebut terdapat lebih dari 50 % dari areal pertanaman kakao di Sulawesi disamping itu kawasan tersebut memang sesuai untuk pengembangan kakao jika dilihat dari segi agro-klimat. Dengan adanya pusat pengembangan kakao pada lima kabupaten di kawasan Mandalu, tidak berarti bahwa pengembangan kakao di kabupaten lain tidak dilaksanakan lagi. Pengembangan areal tanaman kakao ini tidak dibarengi dengan peningkatan mutu biji kakao yang dihasilkan. Rendahnya mutu biji kakao tersebut disebabkan karena faktor teknis dan faktor nonteknis. Faktor teknis bersumber dari kurang tepatnya kesesuaian lahan dan benih yang digunakan, pemeliharaan kebun (terutama teknik pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian serangan hama dan penyakit), hingga proses pascapanen (terutama proses fermentasi). Sedangkan faktor nonteknis antara lain modal, sikap terhadap teknologi, pendidikan, penga-laman, umur, dan kurangnya penyuluhan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terdapat beberapa fakta permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, diantaranya ;
Sektor Kelautan (perikanan tangkap)
Kurangnya peralatan atau sarana dan prasarana penangkapan produksi laut.
Posisi tawar harga yang rendah dikarenakan jalur dan tempat pemasaran yang terbatas serta tanpa pengolahan produk pasca panen.
Kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya mendukung seperti program penyuluhan dan pembinaan nelayan yang belum sepenuhnya dilaksanakan.
Tidak adanya usaha sambilan dengan melakukan penganekaragaman sumber penghasilan
Adanya aktifitas pengeboran lepas pantai yang dilakukan oleh perusahaan besar, memberikan kekawatiran nelayan terhadap produktifitas hasil tangkapannya.
Sektor Pertanian (Perkebunan Kakao)
Serangan hama penyakit yang menyerang seluruh wilayah Propinsi Sulawesi Barat sehingga menghancurkan produksi kakao secara nasional.
Umur tanaman kakao yang sudah tua (di atas 11 tahun) menjadikan produkstifitas yang menurun dan perlu peremajaan.
Kurangnya penyuluhan (bahkan diberbagai kecamatan) tidak dilakukan oleh penyuluh pertanian sehingga petani hanya menanam sesuai trend dan tidak menggunakan sistem budidaya yang baik dan terpadu.
Pengembangan aspek mental dan enterpreneurship terutama para pengangguran untuk dapat berubah secara SPK (Sikap, Prilaku dan Keterampilan) melalui pelatihan tentang motivasi usaha dan kewirausahaan.
Pembinaan usaha dengan menempatkan seorang pembina (pendamping masyarakat) di lokasi dampingan yang mampu memberikan pembinaan terkait manajemen usaha termasuk administrasi keuangan dan pembukuan, pengenalan teknologi tepat guna serta peningkatan skill dan intelektual masyarakat dampingan program. Peningkatan kualitas SDM juga diberikan kepada anggota keluarganya dengan melakukan aktifitas usaha untuk menambah sumber penghasilan keluarga.
Peningkatan aset dan omset usaha diberikan dengan pemberian modal usaha yang difasiltasi juga perluasan pemasaran untuk menampung hasil produksi.
Tujuan Akhir dari “Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Berbasis Sumber Daya Alam, Keberpihakan Kepada Nelayan dan Petani Kakao di Pesisir Barat Pulau Sulawesi” adalah :
Membentuk 3 komunitas nelayan dan petani kakao yang mandiri dan lebih sejahtera
Tujuan program adalah :
Meningkatkan Kapasitas dan Keterampilan berwirausaha komunitas sasaran.
Merecovery aktifitas kegiatan usaha sebagai akibat serangan penyakit dan dampak eksplorasi minyak dan gas di blok Mandar dan Surumana
Serangan hama penyakit yang menyerang seluruh wilayah Propinsi Sulawesi Barat sehingga menghancurkan produksi kakao secara nasional.
Umur tanaman kakao yang sudah tua (di atas 11 tahun) menjadikan produkstifitas yang menurun dan perlu peremajaan.
Kurangnya penyuluhan (bahkan diberbagai kecamatan) tidak dilakukan oleh penyuluh pertanian sehingga petani hanya menanam sesuai trend dan tidak menggunakan sistem budidaya yang baik dan terpadu.
Pengembangan aspek mental dan enterpreneurship terutama para pengangguran untuk dapat berubah secara SPK (Sikap, Prilaku dan Keterampilan) melalui pelatihan tentang motivasi usaha dan kewirausahaan.
Pembinaan usaha dengan menempatkan seorang pembina (pendamping masyarakat) di lokasi dampingan yang mampu memberikan pembinaan terkait manajemen usaha termasuk administrasi keuangan dan pembukuan, pengenalan teknologi tepat guna serta peningkatan skill dan intelektual masyarakat dampingan program. Peningkatan kualitas SDM juga diberikan kepada anggota keluarganya dengan melakukan aktifitas usaha untuk menambah sumber penghasilan keluarga.
Peningkatan aset dan omset usaha diberikan dengan pemberian modal usaha yang difasiltasi juga perluasan pemasaran untuk menampung hasil produksi.
Tujuan Akhir dari “Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Berbasis Sumber Daya Alam, Keberpihakan Kepada Nelayan dan Petani Kakao di Pesisir Barat Pulau Sulawesi” adalah :
Membentuk 3 komunitas nelayan dan petani kakao yang mandiri dan lebih sejahtera
Tujuan program adalah :
Meningkatkan Kapasitas dan Keterampilan berwirausaha komunitas sasaran.
Merecovery aktifitas kegiatan usaha sebagai akibat serangan penyakit dan dampak eksplorasi minyak dan gas di blok Mandar dan Surumana
Meningkatkan pendapatan petani kakao dan nelayan tangkap
Keluaran / output merupakan perubahan-perubahan yang diperkirakan secara langsung terjadi perubahan pada komunitas sasaran dengan dilakukannya tindakan-tindakan proses pemberdayaan, keluaran yang akan dicapai pada program ini adalah :
Kapasitas dan keterampilan berwirausaha komunitas sasaran meningkat.
Kegiatan usaha masyarakat pulih kembali melalui pendampingan program
Usaha petani dan nelayan meningkat melalui peningkatan produktifitas, penanganan pasca panen dan pemasaran produk.
Keluaran / output merupakan perubahan-perubahan yang diperkirakan secara langsung terjadi perubahan pada komunitas sasaran dengan dilakukannya tindakan-tindakan proses pemberdayaan, keluaran yang akan dicapai pada program ini adalah :
Kapasitas dan keterampilan berwirausaha komunitas sasaran meningkat.
Kegiatan usaha masyarakat pulih kembali melalui pendampingan program
Usaha petani dan nelayan meningkat melalui peningkatan produktifitas, penanganan pasca panen dan pemasaran produk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar