Program Penanganan Dampak Kekeringan di Pesisir Selatan Banten
Rabu, November 05, 2008
Selasa, November 04, 2008
Program PKL
Rano Karno Mohammad Bilal (Ranka Mobil)
Keberadaan PKL di Kabupaten Bojonegoro hampir merata di seluruh kota, baik di sudut-sudut jalan, pasar, alun-alun, trotoar, dan lain-lain. Hampir setiap trotoar jalan maupun tanah-tanah lapang, terutama di jalan-jalan protokol dapat ditemukan PKL. Terlebih pada malam hari, kehidupan kota banyak diwarnai oleh para PKL. Jumlah PKL seluruh Kota bojonegoro diperkirakan sekitar 1200-an. Sebagian PKL ada yang menggelar dagangannya hampir 24 jam. Ada pula sebagian PKL yang hanya menggelar dagangannya pagi sampai sore; dan sebagian lagi ada yang hanya beroperasi pada malam hari.
Setelah dilakukan penertiban oleh PEMDA sebagai realisasi keputusan Bupati yang keluar sejak tahun 2006, maka sebagian besar PKL terutama di sekitar alun-alun dan jalan-jalan protokol hanya berdagang sore dan malam hari di hari-hari kerja (hari senin hingga jumat). Dan PEMDA memberikan kelonggaran kepada PKL untuk bisa berdagang dari mulai pagi hingga malam pada hari libur (shari sabtu dan hari minggu).
Jenis barang dagangan para PKL sangat variatif, mulai dari makanan, minuman, sampai kepada berbagai jenis acessoris kendaraan, stiker dan lain-lain. Dan dari sekian banyak jenis dagangan, pedagang makanan dan minuman merupakan yang mayoritas. Hal ini tampaknya sangat terkait dengan kondisi masyarakat setempat yang suka minum kopi sambil berlama-lama lesehan.
Hal lain yang perlu dilaporkan tentang PKL ini adalah bahwa keberadaannya cukup sporadis. Kecuali yang ada di sekitar alun-alun, tidak ada blok-blok yang menjadi daya tarik keramaian PKL. Meski sepanjang trotoar jalan banyak ditemukan PKL, namun keberadaan mereka terpencar dan dengan barang dagangan yang kurang berhubungan. Misalnya, pedagang makanan-minuman juga campur dengan pedagang acessoris, stiker, dan lain-lain.
Jika melihat keberadaan PKL, pada dasarnya dapat dipandang sebagai potensi kekuatan ekonomi tersendiri bagi kota yang juga penghasil tembakau ini. Karena, PKL tetap berperan dalam mata rantai pemasaran pemasaran sekaligus mengurangi tingkat pengangguran. Meski demikian, terdapat beberapa persoalan yang perlu dicermati sehubungan dengan PKL tersebut.
Survey yang dilakukan hampir diseluruh wilayah kota Bojonegoro meliputi Jalan Akhmad Yani, Gajah Mada, Untung Suropati, Rajegwesi, KH. M. Thamrin, Jenderal Soedirman, Teuku Umar, Pemuda, Basuki Rakhmat, Dr. Cipto, Dr. Wahidin, Suroko, Kartini, Trunojoyo, Pahlawan, Masjid, Cokroaminoto, Imam Bonjol, Rajawali, KH. Mansur dan Jalan WR. Supratman. Beberapa masalah yang muncul antara lain :
o Asosiasi atau perkumpulan PKL yang terbentuk di kota Bojonegoro belum efektif untuk memperjuangkan atau melakukan advokasi kepentingan PKL. Konsorsium yang terbentuk tidak bergerak dalam tataran kelembagaan, sedangkan para pedagang masih terkesan berjalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi yang jelas. Salah satu faktornya adalah tidak adanya kepemimpinan berjenjang dan kolektif yang agaliter diantara para pedagang sehingga yang muncul hanyalah kepentingan-kepentingan sesaat untuk mengatasnamakan “suara pedagang kaki lima”.
o Dengan adanya kecenderungan jumlah PKL yang terus bertambah, bertambah pula tingkat persaingan, apalagi pedagang tidak melakukan inovasi-inovasi produknya. Jenis produk dagangan PKL lebih banyak merupakan produk komplementer dari kios atau toko yang ada, seperti sembako, rokok, dan beberapa jenis produk minuman atau makanan.
o Pedagang kesulitan mencari tempat yang murah dan mudah untuk melakukan transaksi selain memakai trotoar dikarenakan ketidakmampuan modal untuk membeli tempat berdagang.
o Desain tempat dagangan yang kurang memperhatikan tingkat kerapian, kebersihan dan kesehatan dikarenakan kesadaran yang kurang akibat minimnya program pembinaan yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait.
o Kebijakan-kebijakan Pemda yang belum optimal memasukkan PKL sebagai aset ekonomi kota, sehingga penanganan yang dilakukan kadang kurang berpihak dengan masyarakat terutama pedagang.
Pengembangan aspek mental dan enterpreneurship terutama para pedagang untuk dapat berubah secara SPK (Sikap, Prilaku dan Keterampilan) melalui pelatihan tentang usaha dan Manajemen
Pembinaan usaha dengan menempatkan seorang pembina (pendamping masyarakat) di lokasi dampingan yang mampu memberikan pembinaan terkait manajemen usaha termasuk administrasi keuangan dan pembukuan, serta peningkatan skill dan intelektual masyarakat dampingan program.
Peningkatan aset dan omset usaha diberikan dengan pemberian modal usaha untuk perbaikan sarana dan prasarana serta peningkatan kualitas alat dan produk dagangannya.,
Melokalisir PKL secara terbatas dan terpadu dengan menyediakan tempat-tempat strategis disepanjang jalan protokol kota bojonegoro.
Keluaran / output merupakan perubahan-perubahan yang diperkirakan secara langsung terjadi perubahan pada komunitas sasaran dengan dilakukannya tindakan-tindakan proses pemberdayaan, keluaran yang akan dicapai pada program ini adalah :
o Dengan adanya kecenderungan jumlah PKL yang terus bertambah, bertambah pula tingkat persaingan, apalagi pedagang tidak melakukan inovasi-inovasi produknya. Jenis produk dagangan PKL lebih banyak merupakan produk komplementer dari kios atau toko yang ada, seperti sembako, rokok, dan beberapa jenis produk minuman atau makanan.
o Pedagang kesulitan mencari tempat yang murah dan mudah untuk melakukan transaksi selain memakai trotoar dikarenakan ketidakmampuan modal untuk membeli tempat berdagang.
o Desain tempat dagangan yang kurang memperhatikan tingkat kerapian, kebersihan dan kesehatan dikarenakan kesadaran yang kurang akibat minimnya program pembinaan yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait.
o Kebijakan-kebijakan Pemda yang belum optimal memasukkan PKL sebagai aset ekonomi kota, sehingga penanganan yang dilakukan kadang kurang berpihak dengan masyarakat terutama pedagang.
Pengembangan aspek mental dan enterpreneurship terutama para pedagang untuk dapat berubah secara SPK (Sikap, Prilaku dan Keterampilan) melalui pelatihan tentang usaha dan Manajemen
Pembinaan usaha dengan menempatkan seorang pembina (pendamping masyarakat) di lokasi dampingan yang mampu memberikan pembinaan terkait manajemen usaha termasuk administrasi keuangan dan pembukuan, serta peningkatan skill dan intelektual masyarakat dampingan program.
Peningkatan aset dan omset usaha diberikan dengan pemberian modal usaha untuk perbaikan sarana dan prasarana serta peningkatan kualitas alat dan produk dagangannya.,
Melokalisir PKL secara terbatas dan terpadu dengan menyediakan tempat-tempat strategis disepanjang jalan protokol kota bojonegoro.
Kapasitas dan keterampilan berwirausaha dan manajerial komunitas sasaran meningkat.
Kegiatan usaha tetap mengikuti dinamika perkembangan kebijakan pemerintah daerah abupaten Bojonegoro melalui pendampingan program.Usaha pedagangmeningkat melalui peningkatan produktifitas dan penganekaragaman produk
Kegiatan usaha tetap mengikuti dinamika perkembangan kebijakan pemerintah daerah abupaten Bojonegoro melalui pendampingan program.Usaha pedagangmeningkat melalui peningkatan produktifitas dan penganekaragaman produk
Program Pesisir
Rano Karno Mohammad Bilal (Ranka Mobil)
Perikanan Kabupaten Majene
Perikanan Sulawesi Tengah
Sulawesi Tengah memiliki perairan laut seluas 193.923,75 km2 yang tersebar di Teluk Tolo, Teluk Tomini, Selat Makasar dan Laut Sulawesi. Potensi sumberdaya ikan di perairan tersebut kurang lebih sebanyak 330.000 ton per-tahun. Sedangkan ikan yang bisa dikelola secara lestari sekitar 214.000 ton per-tahun. Di Teluk Tolo terdapat 68.000 ton per-tahun, Teluk Tomini 78.000 ton per-tahun, Selat Makasar dan Laut Sulawesi 68.000 ton per-tahun. Dari potensi ikan lestari tersebut jumlah ikan yang dapat ditangkap sebesar 217.280 ton per-tahun. Sementara itu, tingkat pemanfaatan sampai dengan saat ini baru mencapai 46,20%.
Jenis ikan yang terdapat di perairan Sulawesi Tengah antara lain ikan tuna, ikan cakalang, ikan kerapu, ikan taripang, ikan lajang dan udang. Potensi ikan pelagis besar untuk komoditi ekspor terutama ikan tuna sekitar 10.000 ton per-tahun dan ikan cakalang 14.000 ton per-tahun. Hasil laut lainnya yaitu biji mutiara, teripang, dan rumput laut. Selain perikanan tangkap, Sulawesi Tengah juga potensial untuk pengembangan perikanan budidaya seperti udang, ikan bandeng dan ikan kerapu.
Jenis ikan yang terdapat di perairan Sulawesi Tengah antara lain ikan tuna, ikan cakalang, ikan kerapu, ikan taripang, ikan lajang dan udang. Potensi ikan pelagis besar untuk komoditi ekspor terutama ikan tuna sekitar 10.000 ton per-tahun dan ikan cakalang 14.000 ton per-tahun. Hasil laut lainnya yaitu biji mutiara, teripang, dan rumput laut. Selain perikanan tangkap, Sulawesi Tengah juga potensial untuk pengembangan perikanan budidaya seperti udang, ikan bandeng dan ikan kerapu.
Perkebunan Kakao Sulawesi Barat.
Tanaman kakao (Theobroma cacao, L) adalah salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peranan penting dalam pembangunan di Sulawesi Barat, karena memiliki areal yang cukup luas dan menyebar di seluruh kabupaten yang ada di Sulawesi Barat, serta memberikan kontribusi yang cukup besar bagi propinsi. Disamping itu, sampai saat ini kakao masih memiliki prospek pasar yang cukup baik dibanding komoditas perkebunan lainnya.
Sulawesi Barat merupakan sentra kakao Indonesia karena pada wilayah tersebut terdapat lebih dari 50 % dari areal pertanaman kakao di Sulawesi disamping itu kawasan tersebut memang sesuai untuk pengembangan kakao jika dilihat dari segi agro-klimat. Dengan adanya pusat pengembangan kakao pada lima kabupaten di kawasan Mandalu, tidak berarti bahwa pengembangan kakao di kabupaten lain tidak dilaksanakan lagi. Pengembangan areal tanaman kakao ini tidak dibarengi dengan peningkatan mutu biji kakao yang dihasilkan. Rendahnya mutu biji kakao tersebut disebabkan karena faktor teknis dan faktor nonteknis. Faktor teknis bersumber dari kurang tepatnya kesesuaian lahan dan benih yang digunakan, pemeliharaan kebun (terutama teknik pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian serangan hama dan penyakit), hingga proses pascapanen (terutama proses fermentasi). Sedangkan faktor nonteknis antara lain modal, sikap terhadap teknologi, pendidikan, penga-laman, umur, dan kurangnya penyuluhan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terdapat beberapa fakta permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, diantaranya ;
Sektor Kelautan (perikanan tangkap)
Kurangnya peralatan atau sarana dan prasarana penangkapan produksi laut.
Posisi tawar harga yang rendah dikarenakan jalur dan tempat pemasaran yang terbatas serta tanpa pengolahan produk pasca panen.
Kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya mendukung seperti program penyuluhan dan pembinaan nelayan yang belum sepenuhnya dilaksanakan.
Tidak adanya usaha sambilan dengan melakukan penganekaragaman sumber penghasilan
Adanya aktifitas pengeboran lepas pantai yang dilakukan oleh perusahaan besar, memberikan kekawatiran nelayan terhadap produktifitas hasil tangkapannya.
Sulawesi Barat merupakan sentra kakao Indonesia karena pada wilayah tersebut terdapat lebih dari 50 % dari areal pertanaman kakao di Sulawesi disamping itu kawasan tersebut memang sesuai untuk pengembangan kakao jika dilihat dari segi agro-klimat. Dengan adanya pusat pengembangan kakao pada lima kabupaten di kawasan Mandalu, tidak berarti bahwa pengembangan kakao di kabupaten lain tidak dilaksanakan lagi. Pengembangan areal tanaman kakao ini tidak dibarengi dengan peningkatan mutu biji kakao yang dihasilkan. Rendahnya mutu biji kakao tersebut disebabkan karena faktor teknis dan faktor nonteknis. Faktor teknis bersumber dari kurang tepatnya kesesuaian lahan dan benih yang digunakan, pemeliharaan kebun (terutama teknik pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian serangan hama dan penyakit), hingga proses pascapanen (terutama proses fermentasi). Sedangkan faktor nonteknis antara lain modal, sikap terhadap teknologi, pendidikan, penga-laman, umur, dan kurangnya penyuluhan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terdapat beberapa fakta permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, diantaranya ;
Sektor Kelautan (perikanan tangkap)
Kurangnya peralatan atau sarana dan prasarana penangkapan produksi laut.
Posisi tawar harga yang rendah dikarenakan jalur dan tempat pemasaran yang terbatas serta tanpa pengolahan produk pasca panen.
Kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya mendukung seperti program penyuluhan dan pembinaan nelayan yang belum sepenuhnya dilaksanakan.
Tidak adanya usaha sambilan dengan melakukan penganekaragaman sumber penghasilan
Adanya aktifitas pengeboran lepas pantai yang dilakukan oleh perusahaan besar, memberikan kekawatiran nelayan terhadap produktifitas hasil tangkapannya.
Sektor Pertanian (Perkebunan Kakao)
Serangan hama penyakit yang menyerang seluruh wilayah Propinsi Sulawesi Barat sehingga menghancurkan produksi kakao secara nasional.
Umur tanaman kakao yang sudah tua (di atas 11 tahun) menjadikan produkstifitas yang menurun dan perlu peremajaan.
Kurangnya penyuluhan (bahkan diberbagai kecamatan) tidak dilakukan oleh penyuluh pertanian sehingga petani hanya menanam sesuai trend dan tidak menggunakan sistem budidaya yang baik dan terpadu.
Pengembangan aspek mental dan enterpreneurship terutama para pengangguran untuk dapat berubah secara SPK (Sikap, Prilaku dan Keterampilan) melalui pelatihan tentang motivasi usaha dan kewirausahaan.
Pembinaan usaha dengan menempatkan seorang pembina (pendamping masyarakat) di lokasi dampingan yang mampu memberikan pembinaan terkait manajemen usaha termasuk administrasi keuangan dan pembukuan, pengenalan teknologi tepat guna serta peningkatan skill dan intelektual masyarakat dampingan program. Peningkatan kualitas SDM juga diberikan kepada anggota keluarganya dengan melakukan aktifitas usaha untuk menambah sumber penghasilan keluarga.
Peningkatan aset dan omset usaha diberikan dengan pemberian modal usaha yang difasiltasi juga perluasan pemasaran untuk menampung hasil produksi.
Tujuan Akhir dari “Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Berbasis Sumber Daya Alam, Keberpihakan Kepada Nelayan dan Petani Kakao di Pesisir Barat Pulau Sulawesi” adalah :
Membentuk 3 komunitas nelayan dan petani kakao yang mandiri dan lebih sejahtera
Tujuan program adalah :
Meningkatkan Kapasitas dan Keterampilan berwirausaha komunitas sasaran.
Merecovery aktifitas kegiatan usaha sebagai akibat serangan penyakit dan dampak eksplorasi minyak dan gas di blok Mandar dan Surumana
Serangan hama penyakit yang menyerang seluruh wilayah Propinsi Sulawesi Barat sehingga menghancurkan produksi kakao secara nasional.
Umur tanaman kakao yang sudah tua (di atas 11 tahun) menjadikan produkstifitas yang menurun dan perlu peremajaan.
Kurangnya penyuluhan (bahkan diberbagai kecamatan) tidak dilakukan oleh penyuluh pertanian sehingga petani hanya menanam sesuai trend dan tidak menggunakan sistem budidaya yang baik dan terpadu.
Pengembangan aspek mental dan enterpreneurship terutama para pengangguran untuk dapat berubah secara SPK (Sikap, Prilaku dan Keterampilan) melalui pelatihan tentang motivasi usaha dan kewirausahaan.
Pembinaan usaha dengan menempatkan seorang pembina (pendamping masyarakat) di lokasi dampingan yang mampu memberikan pembinaan terkait manajemen usaha termasuk administrasi keuangan dan pembukuan, pengenalan teknologi tepat guna serta peningkatan skill dan intelektual masyarakat dampingan program. Peningkatan kualitas SDM juga diberikan kepada anggota keluarganya dengan melakukan aktifitas usaha untuk menambah sumber penghasilan keluarga.
Peningkatan aset dan omset usaha diberikan dengan pemberian modal usaha yang difasiltasi juga perluasan pemasaran untuk menampung hasil produksi.
Tujuan Akhir dari “Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Berbasis Sumber Daya Alam, Keberpihakan Kepada Nelayan dan Petani Kakao di Pesisir Barat Pulau Sulawesi” adalah :
Membentuk 3 komunitas nelayan dan petani kakao yang mandiri dan lebih sejahtera
Tujuan program adalah :
Meningkatkan Kapasitas dan Keterampilan berwirausaha komunitas sasaran.
Merecovery aktifitas kegiatan usaha sebagai akibat serangan penyakit dan dampak eksplorasi minyak dan gas di blok Mandar dan Surumana
Meningkatkan pendapatan petani kakao dan nelayan tangkap
Keluaran / output merupakan perubahan-perubahan yang diperkirakan secara langsung terjadi perubahan pada komunitas sasaran dengan dilakukannya tindakan-tindakan proses pemberdayaan, keluaran yang akan dicapai pada program ini adalah :
Kapasitas dan keterampilan berwirausaha komunitas sasaran meningkat.
Kegiatan usaha masyarakat pulih kembali melalui pendampingan program
Usaha petani dan nelayan meningkat melalui peningkatan produktifitas, penanganan pasca panen dan pemasaran produk.
Keluaran / output merupakan perubahan-perubahan yang diperkirakan secara langsung terjadi perubahan pada komunitas sasaran dengan dilakukannya tindakan-tindakan proses pemberdayaan, keluaran yang akan dicapai pada program ini adalah :
Kapasitas dan keterampilan berwirausaha komunitas sasaran meningkat.
Kegiatan usaha masyarakat pulih kembali melalui pendampingan program
Usaha petani dan nelayan meningkat melalui peningkatan produktifitas, penanganan pasca panen dan pemasaran produk.
Program Pesisir
Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Berbasis Sumber Daya Alam, Keberpihakan Kepada Nelayan dan Petani Kakao di Pantai Barat Pulau Sulawesi”
Oleh :
Rano Karno Mohammad Bilal (ranka mobil)
LATAR BELAKANG
LATAR BELAKANG
Perikanan Majene
Kabupaten Majene dengan mempunyai sumber daya kelautan yang melimpah karena didukung oleh kondisi alam yaitu berada di daerah pesisir dengan panjang, dan luas perairan mencapai 1000 km2, jumlah nelayan sebanyak 8.455 orang dengan produksi ikan yaitu sekitar 13.077,3 ton pertahun dengan luas tambak 885 Ha, yang dikelola 440,5 Ha, dengan jumlah produksi 178,9 ton pertahun.Jenis peralatan yang dipergunakan difatnya masih tradisionil yaitu perahu sandeq dan kapal motor nelayan dengan jenis alat tangkap yaitu Payang, Pukat dan Pancing. Fasilitas processing masih sifat tradisionil yaitu pembekuan, dan pengeringan biasa serta pengasapan. Kondisi pasar masih local dan semi ekspor (tidak ada eksportis langsung), yaitu lewat eksporti ikan setahun sebanyak 2.008,9 ton ikan kering dan 382,2 ton ikan asapan. Potensi perikanan laut di kabupaten Majene sangat dimungkinkan untuk pengembangan dengan skala besar untuk orientasi ekspor, dengan penyediaan fasilitas penangkapan, sumber manusia dan processing. Pada saat ini sector perikanan yang sementara dikembangkan adalah sirip ikan hiu yang merupakan asset daerah yang potensial untuk dikembangkan.
Perikanan Sulteng
Sulawesi Tengah memiliki perairan laut seluas 193.923,75 km2 yang tersebar di Teluk Tolo, Teluk Tomini, Selat Makasar dan Laut Sulawesi. Potensi sumberdaya ikan di perairan tersebut kurang lebih sebanyak 330.000 ton per-tahun. Sedangkan ikan yang bisa dikelola secara lestari sekitar 214.000 ton per-tahun. Di Teluk Tolo terdapat 68.000 ton per-tahun, Teluk Tomini 78.000 ton per-tahun, Selat Makasar dan Laut Sulawesi 68.000 ton per-tahun. Dari potensi ikan lestari tersebut jumlah ikan yang dapat ditangkap sebesar 217.280 ton per-tahun. Sementara itu, tingkat pemanfaatan sampai dengan saat ini baru mencapai 46,20%.
Jenis ikan yang terdapat di perairan Sulawesi Tengah antara lain ikan tuna, ikan cakalang, ikan kerapu, ikan taripang, ikan lajang dan udang. Potensi ikan pelagis besar untuk komoditi ekspor terutama ikan tuna sekitar 10.000 ton per-tahun dan ikan cakalang 14.000 ton per-tahun. Hasil laut lainnya yaitu biji mutiara, teripang, dan rumput laut. Selain perikanan tangkap, Sulawesi Tengah juga potensial untuk pengembangan perikanan budidaya seperti udang, ikan bandeng dan ikan kerapu.
Perkebunan Kakao Sulbar
Tanaman kakao (Theobroma cacao, L) adalah salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peranan penting dalam pembangunan di Sulawesi Barat, karena memiliki areal yang cukup luas dan menyebar di seluruh kabupaten yang ada di Sulawesi Barat, serta memberikan kontribusi yang cukup besar bagi propinsi. Disamping itu, sampai saat ini kakao masih memiliki prospek pasar yang cukup baik dibanding komoditas perkebunan lainnya.
Sulawesi Barat merupakan sentra kakao Indonesia karena pada wilayah tersebut terdapat lebih dari 50 % dari areal pertanaman kakao di Sulawesi disamping itu kawasan tersebut memang sesuai untuk pengembangan kakao jika dilihat dari segi agro-klimat. Dengan adanya pusat pengembangan kakao pada lima kabupaten di kawasan Mandalu, tidak berarti bahwa pengembangan kakao di kabupaten lain tidak dilaksanakan lagi.
Pengembangan areal tanaman kakao ini tidak dibarengi dengan peningkatan mutu biji kakao yang dihasilkan. Rendahnya mutu biji kakao tersebut disebabkan karena faktor teknis dan faktor nonteknis. Faktor teknis bersumber dari kurang tepatnya kesesuaian lahan dan benih yang digunakan, pemeliharaan kebun (terutama teknik pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian serangan hama dan penyakit), hingga proses pascapanen (terutama proses fermentasi). Sedangkan faktor nonteknis antara lain modal, sikap terhadap teknologi, pendidikan, penga-laman, umur, dan kurangnya penyuluhan.
ANALISIS MASALAH
Survey yang dilakukan di wilayah Pantai Barat Pulau Sulawesi (yakni di Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene, Kabupaten mamuju Utara di Sulawesi Barat serta Kabupaten Donggala di Sulawesi Tengah, menggunakan metode sampling acak dan observasi dengan menggunakan alat kajian RRA (Rural Rapid Appraisal) serta dikemas dengan Metode LFA (Logical Framework Analisys) Di sepanjang pantai barat Sulawesi (terutama daerah yang sudah diamati), sebagian besar masyarakat telah memiliki usaha yang sudah dijalankan yakni sektor kelautan (perikanan tangkap) dan pertanian (perkebunan kakao).
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terdapat beberapa fakta permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, diantaranya ;
Sektor Kelautan (perikanan tangkap)
Kurangnya peralatan atau sarana dan prasarana penangkapan produksi laut.
Posisi tawar harga yang rendah dikarenakan jalur dan tempat pemasaran yang terbatas serta tanpa pengolahan produk pasca panen.
Kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya mendukung seperti program penyuluhan dan pembinaan nelayan yang belum sepenuhnya dilaksanakan.
Tidak adanya usaha sambilan dengan melakukan penganekaragaman sumber penghasilan
Adanya aktifitas pengeboran lepas pantai yang dilakukan oleh perusahaan besar, memberikan kekawatiran nelayan terhadap produktifitas hasil tangkapannya.
Survey yang dilakukan di wilayah Pantai Barat Pulau Sulawesi (yakni di Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene, Kabupaten mamuju Utara di Sulawesi Barat serta Kabupaten Donggala di Sulawesi Tengah, menggunakan metode sampling acak dan observasi dengan menggunakan alat kajian RRA (Rural Rapid Appraisal) serta dikemas dengan Metode LFA (Logical Framework Analisys) Di sepanjang pantai barat Sulawesi (terutama daerah yang sudah diamati), sebagian besar masyarakat telah memiliki usaha yang sudah dijalankan yakni sektor kelautan (perikanan tangkap) dan pertanian (perkebunan kakao).
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terdapat beberapa fakta permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, diantaranya ;
Sektor Kelautan (perikanan tangkap)
Kurangnya peralatan atau sarana dan prasarana penangkapan produksi laut.
Posisi tawar harga yang rendah dikarenakan jalur dan tempat pemasaran yang terbatas serta tanpa pengolahan produk pasca panen.
Kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya mendukung seperti program penyuluhan dan pembinaan nelayan yang belum sepenuhnya dilaksanakan.
Tidak adanya usaha sambilan dengan melakukan penganekaragaman sumber penghasilan
Adanya aktifitas pengeboran lepas pantai yang dilakukan oleh perusahaan besar, memberikan kekawatiran nelayan terhadap produktifitas hasil tangkapannya.
Sektor Pertanian (Perkebunan Kakao)
Serangan hama penyakit yang menyerang seluruh wilayah Propinsi Sulawesi Barat sehingga menghancurkan produksi kakao secara nasional.
Umur tanaman kakao yang sudah tua (di atas 11 tahun) menjadikan produkstifitas yang menurun dan perlu peremajaan.
Kurangnya penyuluhan (bahkan diberbagai kecamatan) tidak dilakukan oleh penyuluh pertanian sehingga petani hanya menanam sesuai trend dan tidak menggunakan sistem budidaya yang baik dan terpadu.
SOLUSI / ALTERNATIF PENYELESAIAN MASALAH
Pengembangan aspek mental dan enterpreneurship terutama para pengangguran untuk dapat berubah secara SPK (Sikap, Prilaku dan Keterampilan) melalui pelatihan tentang motivasi usaha dan kewirausahaan..
Pembinaan usaha dengan menempatkan seorang pembina (pendamping masyarakat) di lokasi dampingan yang mampu memberikan pembinaan terkait manajemen usaha termasuk administrasi keuangan dan pembukuan, pengenalan teknologi tepat guna serta peningkatan skill dan intelektual masyarakat dampingan program. Peningkatan kualitas SDM juga diberikan kepada anggota keluarganya dengan melakukan aktifitas usaha untuk menambah sumber penghasilan keluarga.
Peningkatan aset dan omset usaha diberikan dengan pemberian modal usaha yang difasiltasi juga perluasan pemasaran untuk menampung hasil produksi.
Umur tanaman kakao yang sudah tua (di atas 11 tahun) menjadikan produkstifitas yang menurun dan perlu peremajaan.
Kurangnya penyuluhan (bahkan diberbagai kecamatan) tidak dilakukan oleh penyuluh pertanian sehingga petani hanya menanam sesuai trend dan tidak menggunakan sistem budidaya yang baik dan terpadu.
SOLUSI / ALTERNATIF PENYELESAIAN MASALAH
Pengembangan aspek mental dan enterpreneurship terutama para pengangguran untuk dapat berubah secara SPK (Sikap, Prilaku dan Keterampilan) melalui pelatihan tentang motivasi usaha dan kewirausahaan..
Pembinaan usaha dengan menempatkan seorang pembina (pendamping masyarakat) di lokasi dampingan yang mampu memberikan pembinaan terkait manajemen usaha termasuk administrasi keuangan dan pembukuan, pengenalan teknologi tepat guna serta peningkatan skill dan intelektual masyarakat dampingan program. Peningkatan kualitas SDM juga diberikan kepada anggota keluarganya dengan melakukan aktifitas usaha untuk menambah sumber penghasilan keluarga.
Peningkatan aset dan omset usaha diberikan dengan pemberian modal usaha yang difasiltasi juga perluasan pemasaran untuk menampung hasil produksi.
TUJUAN
Tujuan Akhir dari “Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Berbasis Sumber Daya Alam, Keberpihakan Kepada Nelayan dan Petani Kakao di Pesisir Barat Pulau Sulawesi” adalah :
Membentuk 3 komunitas nelayan dan petani kakao yang mandiri dan lebih sejahtera
Tujuan program adalah :
Meningkatkan Kapasitas dan Keterampilan berwirausaha komunitas sasaran. Merecovery aktifitas kegiatan usaha sebagai akibat serangan penyakit dan dampak eksplorasi minyak dan gas di blok Mandar dan Surumana.
Meningkatkan pendapatan petani kakao dan nelayan tangkap
KELUARAN / OUTPUT KEGIATAN
Keluaran / output merupakan perubahan-perubahan yang diperkirakan secara langsung terjadi perubahan pada komunitas sasaran dengan dilakukannya tindakan-tindakan proses pemberdayaan, keluaran yang akan dicapai pada program ini adalah :
Kapasitas dan keterampilan berwirausaha komunitas sasaran meningkat.
Kegiatan usaha masyarakat pulih kembali melalui pendampingan program
Usaha petani dan nelayan meningkat melalui peningkatan produktifitas, penanganan pasca panen dan pemasaran produk.
Tujuan Akhir dari “Program Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Berbasis Sumber Daya Alam, Keberpihakan Kepada Nelayan dan Petani Kakao di Pesisir Barat Pulau Sulawesi” adalah :
Membentuk 3 komunitas nelayan dan petani kakao yang mandiri dan lebih sejahtera
Tujuan program adalah :
Meningkatkan Kapasitas dan Keterampilan berwirausaha komunitas sasaran. Merecovery aktifitas kegiatan usaha sebagai akibat serangan penyakit dan dampak eksplorasi minyak dan gas di blok Mandar dan Surumana.
Meningkatkan pendapatan petani kakao dan nelayan tangkap
KELUARAN / OUTPUT KEGIATAN
Keluaran / output merupakan perubahan-perubahan yang diperkirakan secara langsung terjadi perubahan pada komunitas sasaran dengan dilakukannya tindakan-tindakan proses pemberdayaan, keluaran yang akan dicapai pada program ini adalah :
Kapasitas dan keterampilan berwirausaha komunitas sasaran meningkat.
Kegiatan usaha masyarakat pulih kembali melalui pendampingan program
Usaha petani dan nelayan meningkat melalui peningkatan produktifitas, penanganan pasca panen dan pemasaran produk.
Program Pasar
Lembaga Pelayan Masyarakat telah memperluas program pelayanannya berupa pendampingan langsung kepada masyarakat. Program awal yang digulirkan adalah Program Menata Pasar Meraih Berkah yang dalam pelaksanaannya dikoordinir oleh Rano Karno Mohammad Bilal. Hal yang ingin diwujudkan dalam program ini adalah pertama mampu membenahi pasar tradisonal terutama tempat berdagang (lapak-lapak) dan sarana umum seperti saluran air, instalasi listrik, perbaikan MCK dan lain sebagainya. Kedua, terbentuknya komitmen bersama antar pedagang dan pengelola pasar untuk bisa menjaga sarana yang sudah dibenahi, bahkan maksimalnya sampai terbentuknya paguyuban pedagang dampingan LPM DD.
Dalam Pelaksanaannya, program telah mampu membenahi 3 tempat berdagang, yakni pasar Petamburan Tanah Abang Jakarta Pusat dan Pasar Ratak Petukangan Selatan Pesanggrahan Jakarta Selatan Serta Kompleks pedagang kaki lima Perumahan Bintaro Jaya Jakarta Selatan. Program ini melibatkan 63 pedagang pasar dan PKL.
Pada hari Rabu, tanggal 29 Oktober 2008 diresmikan Paguyuban Pedagang Pasar Pintu Air Petamburan oleh Bapak Veldy V. Armita selaku GM Program Pengembangan Sosial Dompet Dhuafa Republika. Acara ini dihadiri oleh Manajemen LPM DD, tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi masyarakat dan juga para pedagang pasar petamburan. Meskipun program Manata Pasar Meraih Berkah di pasar petamburan baru melibatkan 23 pedagang, tetapi yang bersedia bergabung dalam paguyuban pedagang pasar Petamburan sekitar 100-an orang. Acara semakin berkualitas dengan disuguhi penyuluhan berupa ceramah agama mengenai pentingnya persatuan, kebersamaan, persaudaraan dalam bentuk sebuah kelembagaan non formal berupa paguyuban untuk menyongsong perbaikan di masa mendatang.
Sedangkan p
embentukan paguyuban pedagang kaki lima Bintaro Jaya, dilaksanakan pada hari Kamis malam jumat tanggal 30 Oktober 2008 dilaksanakan di Mushola Al Jihad. Peresmian dilakukan oleh GM Program Pengembangan Sosial Dompet Dhuafa yang diwakili oleh Bapak Yayan Rukmana. Selain 13 orang pedagang yang telah memperoleh program awal pendampingan, acara ini dihadiri sekitar 50 orang pedagang dan masyarakat setempat. Pembentukan paguyuban ini juga didukung penuh oleh tokoh masyarakat dan tokoh agama serta masyarakat secara umum. Bapak Sofyan Hadi yang ditunjuk sebagai koordinator paguyuban siap untuk bersama-sama mengembangkan program di masa-masa mendatang. Untuk di Bintaro Jaya, pedagang yang kemungkinan bergabung di dalam paguyuban bisa mencapai 100 orang. Khusus Pasar Ratak Petukangan Selatan, para pedagang yang telah memperoleh program berkomitmen untuk selalu bisa menjaga kebersamaan, persaudaraan dan persatuan terutama dalam menata kerapian dan kebersihan tempat berdagang mereka. Di pasar ini belum sampai dilakukan pembentukan paguyuban atau lembaga non formal lainnya.
Dalam perkembangannya paguyubanlah yang akan mengkoordinir, memfasilitasi dan mengakomodasi kepentingan-kepentingan pedagang di masa yang akan datang. Sedangkan LPM DD bertindak selaku pembina yang bertugas memantau dan memberikan saran dalam pengembangan program di masa mendatang terkait perubahan sikap, perilaku dan keterampilan pedagang agar menjadi lebih baik.
Sang Pelayan
Melayani dengan segenap kemampuan yang kami miliki, melayani dengan kenikmatan yang kami punya, melayani dengan kelebihan yang kami peroleh, melayani dengan kegembiraan yang kami rasakan, melayani dengan kelonggaran yang kami dapatkan, melayani dengan kesempatan yang kami temui, melayani dengan harapan yang kami impikan, melayani dengan senyum yang kami kembangkan, melayani dengan kesederhanaan yang kami tampilkan, melayani dengan keterbatasan yang kami terima, melayani dengan waktu yang kami sengaja luangkan, melayani dengan tenaga yang kami sediakan, melayani dengan pikiran yang kami curahkan, melayani dengan keilmuan yang kami bayangkan, melayani dengan persahabatan yang kami jalin, melayani dengan mimpi yang kami harapkan, melayani dengan keinginan yang kami ungkapkan, melayani dengan apa yang kami punya untuk bisa berharap Tuhan memberi balasan dengan kebaikan bagi semua.
Akulah sang pelayan tersebut, Rano Karno Mohammad Bilal (ranka mobil).
Langganan:
Postingan (Atom)